image

Booth is Dead? Mengapa Brand Activation Kini Beralih dari Display ke Experience

Ketika Booth Tidak Lagi Cukup

Selama bertahun-tahun, booth menjadi simbol utama dalam dunia brand activation. Hampir setiap pameran, festival, atau event publik dipenuhi deretan booth dengan desain menarik, display produk yang rapi, serta tim promotor yang siap menyapa dan membagikan informasi. Pendekatan ini sempat menjadi standar karena efektif menghadirkan brand secara fisik di hadapan audiens.

Namun, seiring perubahan perilaku konsumen dan meningkatnya paparan digital, efektivitas booth konvensional mulai dipertanyakan. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul satu pertanyaan besar di industri event dan marketing:
apakah booth masih relevan?

Pertanyaan ini tidak berarti booth benar-benar kehilangan tempatnya. Yang berubah adalah perannya. Audiens hari ini datang ke event dengan ekspektasi yang berbeda. Mereka tidak lagi cukup puas hanya dengan melihat produk, membaca poster, atau mengambil brosur. Informasi semacam itu sudah mudah diakses secara online. Yang mereka cari kini adalah pengalaman kesempatan untuk merasakan, berinteraksi, dan terlibat langsung dengan brand.

Perubahan ekspektasi inilah yang mendorong banyak brand mulai meninggalkan pendekatan booth yang bersifat statis dan satu arah. Sebagai gantinya, mereka beralih ke experience-driven brand activation, di mana booth bukan lagi tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju pengalaman yang lebih bermakna dan membekas.

 

Masalah Utama Booth Konvensional

Booth tradisional sebenarnya tidak keliru secara konsep. Ia pernah dan dalam konteks tertentu masih menjadi sarana efektif untuk menghadirkan brand secara fisik. Namun, di tengah perubahan perilaku audiens dan ekspektasi yang semakin tinggi, pendekatan booth konvensional sering kali gagal menjawab kebutuhan audiens modern. Beberapa masalah utama yang kerap muncul antara lain:

  • Terlalu fokus pada display, bukan interaksi.
    Produk dipajang dengan rapi, visual dibuat menarik, namun pengalaman audiens berhenti di tahap melihat. Tanpa dorongan untuk berinteraksi, audiens cenderung melintas, melirik sebentar, lalu pergi tanpa keterikatan berarti.
  • Pengalaman yang seragam.
    Banyak booth menggunakan pendekatan visual dan alur yang mirip satu sama lain. Akibatnya, audiens sulit membedakan satu brand dengan brand lainnya. Ketika semuanya terasa sama, tidak ada alasan kuat bagi audiens untuk mengingat salah satunya.
  • Interaksi yang dangkal.
    Percakapan singkat dengan promotor sering kali bersifat informatif dan satu arah. Tanpa ruang dialog atau pengalaman personal, interaksi ini jarang meninggalkan kesan mendalam yang bisa diingat setelah event selesai.
  • Minim emosi.
    Booth yang hanya berfungsi sebagai titik informasi cenderung gagal membangun keterlibatan emosional. Padahal, emosi adalah elemen kunci dalam membentuk ingatan dan hubungan jangka panjang antara brand dan audiens.

Di tengah kondisi digital overload, di mana audiens sudah terbiasa menerima informasi secara instan, pendekatan booth konvensional seperti ini semakin kehilangan daya tarik.

 

Perubahan Perilaku Audiens di Event

Audiens hari ini datang ke event dengan mindset yang sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Akses informasi yang semakin mudah membuat fungsi event sebagai sumber pengetahuan perlahan bergeser. Informasi produk, spesifikasi, bahkan review mendalam sudah bisa dicari dalam hitungan detik melalui ponsel. Karena itu, kehadiran audiens di sebuah event bukan lagi semata-mata untuk “mencari tahu”.

Audiens kini:

  • Tidak lagi mencari informasi semata, karena hampir semua hal sudah tersedia secara online.
  • Lebih selektif dalam memberi perhatian, hanya berhenti pada sesuatu yang benar-benar menarik dan relevan bagi mereka.
  • Lebih tertarik pada pengalaman yang unik dan personal, sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan dari layar atau media digital.

Perubahan ini membuat standar audiens meningkat. Mereka tidak lagi mudah terkesan oleh visual yang sekadar menarik atau booth yang hanya informatif. Jika sebuah booth atau aktivasi tidak menawarkan sesuatu yang bisa dialami secara langsung baik melalui interaksi, sensasi, maupun keterlibatan emosional audiens dengan mudah akan melewatinya tanpa ragu.

Inilah yang mendorong pergeseran besar dalam strategi brand activation offline.

 

Dari Booth ke Experience Space

Alih-alih melihat booth sebagai sekadar ruang display, banyak brand kini mulai merancang experience space—sebuah ruang yang sengaja diciptakan agar audiens tidak hanya melihat, tetapi terlibat secara aktif. Perubahan ini lahir dari kesadaran bahwa pengalaman langsung jauh lebih kuat dalam membangun ingatan dan keterikatan dibanding presentasi produk yang bersifat pasif.

Dalam konsep experience space, audiens diberi kesempatan untuk:

  • Berinteraksi langsung dengan produk, mencoba, merasakan, atau mengeksplorasinya sesuai konteks penggunaan nyata.
  • Menjadi bagian dari cerita brand, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai partisipan dalam narasi yang dibangun.
  • Mengalami nilai brand secara nyata, sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih otentik dan relevan.

Dalam pendekatan ini, desain bukan lagi tujuan akhir, melainkan alat. Tata ruang, visual, hingga alur pergerakan audiens dirancang untuk mendukung pengalaman, bukan sekadar mempercantik tampilan. Fokusnya bergeser dari “terlihat menarik” menjadi “terasa bermakna”.

Beberapa perubahan utama yang kini semakin terlihat:

  • Booth statis → ruang interaktif
  • Display produk → journey pengalaman
  • Promosi satu arah → partisipasi audiens

Transformasi inilah yang menandai evolusi brand activation offline menuju pendekatan yang lebih berorientasi pada pengalaman.

 

Elemen Experience-Driven Brand Activation

Peralihan dari booth konvensional ke pendekatan berbasis pengalaman menuntut brand untuk lebih sadar dalam merancang setiap detail aktivasi. Experience-driven brand activation tidak tercipta secara kebetulan; ia dibangun dari elemen-elemen kunci yang saling mendukung dan bekerja bersama membentuk keterlibatan yang utuh.

1. Interaksi yang Bermakna

Brand activation yang kuat selalu memberi audiens peran aktif. Audiens tidak lagi diposisikan sebagai pengamat pasif, melainkan sebagai bagian dari pengalaman itu sendiri. Mereka diajak melakukan sesuatu mencoba produk, memilih jalur pengalaman, merespons stimulus tertentu, atau bereksplorasi sesuai minat. Ketika audiens terlibat secara aktif, keterikatan emosional pun tumbuh lebih alami, dan pengalaman menjadi jauh lebih personal.

2. Cerita yang Terasa Nyata

Experience yang baik hampir selalu dibangun di atas narasi yang jelas. Bukan sekadar rangkaian aktivitas, tetapi sebuah cerita yang mengalir dan mudah dipahami. Audiens diajak masuk ke dalam dunia brand, merasakan nilai dan karakter yang ingin disampaikan, bukan hanya menerima pesan promosi secara eksplisit. Cerita yang terasa nyata membuat brand lebih mudah diingat karena audiens merasa “mengalami”, bukan sekadar “diberi tahu”.

3. Multi-sensory Engagement

Dalam konteks brand activation modern, visual saja tidak lagi cukup. Pengalaman yang membekas biasanya melibatkan lebih dari satu indra. Karena itu, brand activation kini semakin sering memanfaatkan:

  • sentuhan, untuk menciptakan kedekatan fisik dengan produk atau instalasi,
  • suara, yang membangun atmosfer dan emosi,
  • aroma, yang mampu memicu ingatan dengan sangat kuat,
  • bahkan gerakan, yang membuat audiens benar-benar hadir secara fisik.

Pendekatan multi-sensory inilah yang membuat pengalaman terasa lebih hidup, lebih utuh, dan pada akhirnya lebih mudah diingat.

 

Peran Event Organizer Jakarta dalam Transisi Ini

Transisi dari booth konvensional menuju experience-driven brand activation tidak bisa dilakukan secara instan atau sembarangan. Perubahan ini membutuhkan para pelaku di indutri event organizer yang memiliki pemahaman menyeluruh bukan hanya soal teknis produksi, tetapi juga cara audiens berpikir, merasakan, dan berinteraksi di sebuah event.

Event organizer yang relevan dengan era ini harus mampu membaca:

  • Perilaku audiens, termasuk motivasi mereka datang ke event dan apa yang membuat mereka tertarik untuk berhenti.
  • Alur pengalaman, mulai dari momen pertama audiens melihat aktivasi hingga kesan yang mereka bawa pulang.
  • Serta integrasi antara konsep, desain, dan operasional, agar ide kreatif tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dirasakan di lapangan.

Dengan pendekatan tersebut, peran event organizer pun ikut berubah. Pertanyaan yang diajukan tidak lagi sebatas, “Booth-nya mau seperti apa?” yang berfokus pada bentuk dan tampilan. Sebaliknya, pertanyaan kunci kini bergeser menjadi, “Audiens ingin merasakan apa?” sebuah sudut pandang yang menempatkan pengalaman sebagai pusat dari seluruh perancangan.

Pendekatan ini menuntut Event Organizer untuk berpikir sebagai experience designer, bukan sekadar pelaksana teknis. Mereka harus mampu menyatukan strategi, kreativitas, dan eksekusi menjadi satu pengalaman utuh yang relevan, bermakna, dan membekas.

 

Dampak Nyata bagi Brand

Brand yang beralih ke experience-driven activation mulai merasakan dampak yang jauh lebih nyata dan berkelanjutan dibanding pendekatan konvensional. Perubahan ini tidak hanya terlihat pada keramaian saat event berlangsung, tetapi pada efek jangka panjang yang terus dirasakan setelah acara selesai.

Beberapa dampak utama yang sering muncul antara lain:

  • Brand recall lebih tinggi, karena audiens mengingat brand melalui pengalaman yang mereka alami sendiri, bukan sekadar visual atau pesan promosi.
  • Engagement yang lebih berkualitas, di mana interaksi terjadi secara sadar dan bermakna, bukan sekadar lalu-lintas audiens yang singgah sebentar.
  • Hubungan emosional yang lebih kuat, karena pengalaman fisik membantu audiens merasa lebih dekat dan terhubung dengan nilai brand.
  • Konten organik dari audiens yang lebih autentik, berupa cerita, foto, atau video yang dibagikan secara sukarela karena pengalaman tersebut memang layak dibagikan.

Dampak-dampak inilah yang menjadikan aktivasi offline bukan sekadar event, melainkan aset strategis brand.

 

Masa Depan Brand Activation: Lebih Sedikit Display, Lebih Banyak Experience

Ke depan, arah brand activation akan semakin jelas bergerak menuju kualitas, bukan kuantitas. Brand tidak lagi merasa perlu menghadirkan display yang besar dan penuh elemen visual, melainkan mulai menyaring dengan lebih cermat setiap aktivasi yang mereka lakukan. Pendekatan ini membuat brand activation menjadi lebih terarah dan relevan dengan audiens yang ingin dijangkau.

Brand activation akan semakin:

  • Selektif, memilih momen, lokasi, dan audiens yang benar-benar sesuai dengan tujuan brand.
  • Personal, dengan pengalaman yang terasa dekat dan dirancang untuk menjawab kebutuhan audiens secara spesifik.
  • Berbasis pengalaman, di mana keterlibatan emosional menjadi fokus utama, bukan sekadar tampilan visual.

Dalam konteks ini, display akan semakin minimal, berfungsi sebagai penunjang, bukan pusat perhatian. Sebaliknya, experience interaksi, cerita, dan perasaan yang dibangun menjadi inti dari aktivasi. Brand tidak lagi berlomba tampil paling ramai, tetapi paling bermakna.

 

Booth Bukan Mati, Tapi Harus Berevolusi

Booth konvensional mungkin tidak lagi memiliki peran dominan seperti dulu. Dalam banyak konteks, pendekatan yang hanya mengandalkan display visual memang mulai kehilangan relevansinya. Namun, hal ini bukan berarti brand activation ikut kehilangan pentingnya justru sebaliknya. Di tengah perubahan perilaku audiens, brand activation menjadi semakin krusial karena audiens kini tidak lagi mencari apa yang bisa dilihat, melainkan pengalaman yang bisa dirasakan dan diingat.

Bagi brand, pergeseran ini membuka peluang besar untuk berkomunikasi dengan cara yang lebih manusiawi. Melalui pengalaman yang dirancang dengan empati, brand dapat membangun koneksi emosional yang lebih dalam, menyampaikan nilai secara halus, dan meninggalkan kesan yang bertahan lama di benak audiens.

Dan bagi Event Organizer Jakarta, inilah momen penting untuk naik kelas menjadi arsitek pengalaman, bukan sekadar pembuat booth.